Tanyakan kepada guru, kepuasan apa yang diperoleh sebagai pendidik. Ada beragam jawaban yang bisa diperoleh. Tapi bagi Drs. H. Sujadiyono, kenikmatan yang sulit disetarakan dengan lembar-lembar rupiah bila menyaksikan terjadi perubahan pada anak didik.
Misalnya, seorang siswa baru yang semua masih diantar oleh orangtuanya, berubah menjadi mandiri. Atau, terjadi perubahan pada anak didik atas apa yang telah diajarkan kepanya. “Itu kenikamtan yang luar biasa, tidak bsa dihitung dengan materi,” tutur kepala SDN Percontohan 01 Menteng, Jakarta Pusat ini.
Memimpin sekolah yang banyak diidolakan orang tua dengan laar belakang rata-rata berpendidikan sarjana- Sujadiyono merasa dituntut untuk pandai-pandai mengelolanya. Karena itu, diperlukan upaya dan langkah konkret untuk mencapai visi dan misi yang diinginkan.
Dia menetapkan beberapa indicator untuk mencapai visi tersebut. Yakni, mengoptimalkan proses belajar mengajar, mengembangkan potensi anak, member ruang kepada orang tua dan masyarakat untuk berperan dalam proses pendidikan, di samping mengarahkan kegiatan ekstrakulikuler yang mengenangkan, dan pendidkan agama untuk anak didik.
Selain itu, kepada siswa ditanamkan budaya malu dan konsen melaksanakan aturans ekolag. Tiap pagi, guru dan anak-anak datang lebih awal, sebelum pelajaran dimulai. Mau tidak mau, sebagai kepala sekolah, dia pun melakukan hal yang sama. Setiap hari, rata-rata pukul 06.30, dia sudah tiba di sekolah. “Kalau diri kita tidak bisa, jangan ngomong dulu, “alasannya.
Pernah pada sebuah kesempatan, cerita Sudajiyono, seorang siswa yang tinggal di Bogor datang terlambat. Atas pertimbangan tempat tinggal jauh, orang tua anak minta kebijaksanaan. Tapi itu sulit dipenuhi, karena itu aturan sekolah sudah disosialisasikan lebih awal. “Nuansa itu membuat sekolah terkesan lebih prestisius.” Ujarnya.



